TEORI PSIKOANALISIS
SIGMUND FREUD
Oleh
Ahmad Suwito
Ahmadsuwito7@gmail.com
Teori
psikoanalisis di kembangkan oleh sigmun freud yang lahir pada tanggal 6 mei
1856 dan meninggal pada tanggal 23 september 1939. Pada usia 8 tahun freud
bermimpi untuk mencapai kemashuran melalui berbagai penemuan atau penelitian.
Untuk maksud tersebut freud mencoba membedah 400 belut jantan, untuk meneliti
apakah mereka mempunya testes, penelitian ini belum membuat dia terkenal
akhirnya dia mengalihkan perhatiannya pada manuasia.
Pada tahun
1873 freud masuk fakultas kedokteran di Wina dan lulus pada tahun 1881 dengan
yudisium excellent. Sebagai seorang ahli neurologi dia sering membantu
masalah-masalah pasiennya seperti rasa takut yang irrasional, obsesi dan rasa
cemas. Dalam membantu menyembuhkan masalah-masalah mental freud menggunakan
prosedur yang inovatif yang dinamakan psikoanalisis. Penggunaan psikoanalisis
memerlukan interaksi verbal yang cukup lama dengan pasien untuk menggali
pribadinya yang lebih dalam. Banyak buku yang telah di tulis freud, dan dari
teori freud ini memiliki beberapa kelemahan terutama dalam hal-hal berikut :
1.
Ketidaksadaran (uniconsciousness) amat berpengaruh
terhadap prilaku manusia. Pendapat ini menunjukan bahwa manusia menjadi budak
dirinya sendiri.
2.
Pengalaman masa kecil sangat menentukan atau
berpengaruh terhadap kepribadian masa dewasa. Ini menunjukan bahwa manusia
dipandang tidak berdaya untuk mengubah nasibnya sendiri.
3.
Kepribadian manusia terbentuk berdasarkan cara-cara
yang ditempuh untuk mengatasi dorongan-dorongan seksualnya. Ini menunjukan
bahwa dorongan yang lain dari individu kurang diperhatikan.
1. Struktur
Kepribadian
Semua teori kepribadian menyepakti bahwa manusia, seperti binatang lain,
dilahirkan dengan sejumlah insting dan motifasi. Insting yang paling dasar
ialah tangisan. Ketika lahir tentunya kekuatan motifasi dalam diri tentunya
belum dipengaruhi oleh dunia luar.kekuatan ini bersifat mendasar dan
individual.
Frued membagi struktur kepribadian kedalam tiga komponen, yaitu id, ego,
dan superego. Prilaku seseorang merupakan hasil dari interaksi antara ketiga
komponen tersebut.
a.
Id (Das Es)
Id berisikan motifasi dan energy positif dasar, yang sering disebut insting
atau stimulus. Id berorientasi pada prinsip kesenangan (pleasure principle)
atau prinsip reduksi ketegangan, yang merupak sumber dari dorongan-dorongan
biologis (makan, minum, tidur, dll) Prinsip kesenangan merujuk pada pencapaian
kepuasan yang segera, dan id orientasinya bersifat fantasi (maya). Untuk
memperoleh kesengan id menempuh dua cara yaitu melalui reflex dan proses
primer, proses primer yaitu dalam mengurangi ketegangan dengan berkhayal.
b.
Ego (Das Ich)
Peran utama dari ego adalah sebagai mediator (perantara) atau yang
menjembatani anatar id dengan kondisi lingkungan atau dunia luar dan
berorintasi pada prinsip realita (reality principle). Dalam mencapai kepuasan
ego berdasar pada proses sekunder yaitu berfikir realistic dan berfikir
rasional. Dalam proses disebelumnya yaitu proses primer hanya membawanya pada
suatu titik, dimana ia mendapat gambaran dari benda yang akan memuaskan
keinginannya, langkah selanjutnya adalah mewujudkan apa yang ada di das es dan
langkah ini melalui proses sekunder. Dalam upaya memuaskan dorongan, ego sering
bersifat prakmatis, kurang memperhatikan nilai/norma, atau bersifat hedonis. Hal
yang perlu diperhatikan dari ego adalah :
1.
Ego merupakan bagian dari id yang kehadirannya
bertugas untuk memuaskan kebutuhan id.
2.
Seluruh energy (daya) ego berasal dari id
3.
Peran utama memenuhi kebutuhan id dan lingkungan
sekitar
4.
Ego bertujuan untuk mempertahankan kehidupan individu
dan pengembanbiakannya.
c.
Super Ego (Das Uber Ich)
Super ego merupak cabang dari moril atau keadilan dari kepridadian, yang
mewakili alam ideal daripada alam nyata serta menuju kearah yang sempurna yang
merupakan komponen kepribadian terkait dengan sytandar atau norma masyarakat
mengenai baik dan buruk, benar dan salah. Dengan terbentukny super ego berarti
pada diri individu telah terbentuk kemampuan untuk mengontrl dirinya sendiri
(self control) menggantikan control dari orang tua (out control). Fungsi super
ego adalah sebagai berikut :
1.
Merintangi dorongan-dorongan id, terutama dorongan
seksual dan agresif
2.
Mendorong ego untuk mengantikan tujuan-tujuan relistik
dengan tujuan-tujuan moralistic.
3.
Mengejar kesempurnaan. (perfection)
Karakteristik Sisitem Kepribadian Menurut Freud
|
ID
|
EGO
|
SUPEREGO
|
|
Sistem asli (the true psychic), bersifat subjektif
(tidak mengenal dunia objektif), yang terdiri dari insting-insting dan
gudangnya (reservoir) energy psikis yang digunaka ketiga system kepribadian.
|
Berkembang untuk memenuhi kebutuhan id yang terkait
dengan dunia nyata. Memperoleh energy dari id. Mengetahui dunia subjektif dan
objektif (dunia nyata).
|
Komponen moral kepribadian, terdiri dari dua
subsistem : kata hati (yang menghukum tingkahlaku yang salah) dan ego ideal
(yang mengganjar tingkahlaku yang baik).
|
2. Dinamika
Kepribadian
Freud memandang organisme manusia sebagai sistem energi yang kompleks.
Berdasarkan doktrin konservasi energi bahwa energi berubah dari energy
fisiologis ke energi psikis atau sebaliknya. Freud berpendapat bahwa apabila
energy digunakan dalam kegiatan psikologis seperti berfikir, maka energi itu
merupakan energi psikis. Titik tumpu atau jembatan antara energi jasmaniah
dengan energi kepribadian adalah id dan instink-instinknya. Instink-instink ini
meliputi seluruh energy yang digunakan oleh ketiga struktur kepribadian (id,
ego, dan superego) untuk menjalankan fungsinya. Dinamika kepribadian terkait
dengan proses pemuasan instink, pendistribusian energy psikis dan dampak dari
ketidakmampuan ego untuk mereduksi ketegangan pada saat bertransaksi dengan
dunia luar yaitu kecemasan (anxiety).
a.
Instink
Instink merupakan kumpulan hasrat atau keinginan (wishes). Tujuan dari
instink-instink adalah mereduksi ketegangan (tension reduction) yang dialami sebagai
suatu kesenangan. Freud mengklasifikasikan instink ke dalam dua kelompok,
yaitu:
1.
Instink hidup (life instink : eros). Instink hidup
merupakan motif dasar manusia yang mendorongnya untuk bertingkah laku secara
positif atau konstruktif, berfungsi untuk melayani tujuan manusia agar tetap
hidup dan mengembangkan rasanya. Energy yang bertanggung jawab bagi instink
hidup adalah libido. Libido ini bersumber dari erotogenic zones yaitu
bagian-bagian tubuh yang sangat peka terhadap rangasangan seperti: bibir/mulut,
dubur dan organ seks).
2.
Instink mati (death instink : thanatos). Instink ini
merupakan motifasi dasar manusia yang mendorongnya untuk bertingkah laku yang
bersifat negative atau destruktif. Freud meyakini bahwa manusia dilahirkan
dengan mambawa dorongan untuk mati (keadaan tak barnyawa = inanimate state).
Pendapat ini didasarkan kepada prinsip konstansi dari Fechner yaitu bahwa
proses kehidupan itu cenderung kembali kepada dunia yang anorganis. Kenyataan
manusia akhirnya mati, oleh karena itu tujuan hidup adalah mati. Hidup itu
sendiri tiada lain hanya perjalanan kea rah mati. Dia beranggapan bahwa
instink ini merupakan sisi gelap dari kehidupan manusia.
Instink mempunyai empat macam karakteristik, yaitu : (a) sumber (source):
kondisi rangsangan jasmaniah atau needs, (b) tujuan (aim): menghilangkan
rangsangan jasmaniah atau mereduksi ketegangan, sehingga mencapai kesenangan
dan terhindar dari rasa sakit, (c) objek (object): meliputi benda atau keadaan
yang berada di lingkungan yang dapat memuaskan kebutuhan, termasuk kegiatan
untuk memperoleh objek tersebut, (d) mendorong/pergerakan (impetus): kekuatan
yang bergantung pada intensitas (besar-kecilnya) kebutuhan. Sumber dan tujuan
instink bersifat tetap, sedangkan objek dan penggerak sering berubah-berubah.
Apabila energi instink digunakan untuk mensubstitusi objek yang tidak asli,
maka tingkah laku yang dihasilkannya disebut instink derivative.
a.
Pendistribusian dan penggunaan Energi Psikis.
Dinamika kepribadian merujuk kepada cara kepribadian berubah atau
berkembang melalui pendistribusian dan penggunaan energi psikis, baik
oleh id, ego, maupun superegoengha. Id menggunakan energi ini untuk memperoleh
kenikmatan (pleasure principle) melalui (1) gerakan refleksi dan (2) proses
primer (menghayal atau berfantasi). Mekanisme atau proses pengalihan energi
dari id ke ego atau dari id ke superego disebut identifikasi. Ego menggunakan
energi untuk keperluan (1) memuaskan dorongan atau instink melalui proses
sekunder, (2) meningkatkan perkembangan aspek-aspek psikologi, (3) mengekang
menangkal id agar tidak bertindak impulsive atau irasional dan (4) menciptakan
integrasi di antara ketiga sistem kepribadian dengan tujuan terciptanya
keharmonisan dalam kepribadian, sehingga dapat melakukan transaksi dengan dunia
luar secara efektif. Seperti halnya ego, superego memperoleh energy itu
melalui identifikasi.
Oleh karena itu dalam proses pendistribusian energy itu terjadi persaingan
antara ketiga komponen kepribadian, maka suasana konflik diantara ketiganya
tidak dapat dielakan lagi. Disamping itu ada kemungkinan, ego mendapat tekanan
yang begitu kuat, baik dari id maupun superego.
1.
Konflik
Freud berasumsi bahwa tingkah laku manusia merupakan hasil dari rentetan
konflik internal yang terus menerus. Konflik (peperangan) antara id, ego,
superego adalah hal yang bisa (rutin). Feurd menyakini bahwa konflik-konflik
itu bersumber kepada dorongan-dorongan seks dan agresif.
Konflik sering terjadi secara tidak disadari. Walaupun tidak disadari,
konflik tersebut dapat melahirkan kecemasan (anxiety). Kecemasan ini dapat
dilacak dari kekhawatiran ego akan dorongan id yang tidak dapat di kontrol,
sehingga melahirkan suasana yang mencekam/mengerikan. Setiap orang berusaha untuk
membebaskan diri dari kecemasan ini yang dalam usahanya sering menggunakan
mekanisme pertahanan ego.
2.
Kecemasan
Kecemasan mempunyai peranan sentral dalam teori psikoanalisis, kecemasan
digunakan oleh ego sebagai isyarat adanya bahaya yang mengancam. Perasaan
terjepit dan terancam disebut kecemasan (anxiety). Perasaan ini berfungsi
sebagai ego bahwa ketika dia bertahan sambil tetap mempertimbangkan
kelangsungan hidup organism, dia sebenarnya sedang berada dalam bahaya.
Freud mengklasifikasikan kecemasan dalam tiga tipe,
yaitu sebagai berikut:
|
Tipe kecemasan
|
Pengertian
|
|
Kecemasan Realistik
|
Resrpon terhadap ancaman dari dunia luar atau
perasaan takut terhadap bahaya-bahaya yang nyata(real) yang berada di
lingkungan. Contoh seorang merasa takut bila di depannya ada ular. Maka orang
tersebut mengalami kecemasan realistik.
|
|
Kecemasan Neurotik
|
Respon yang mengancam dari dorongan id ke dalam
kesadaran. Kecemasan ini berkembang berdasarkan pengalaman masa anak yang
terkait dengan hukuman yang maya (hayalan) dari orang tua atau orang lain
yang mempunyai otoritas secara maya pula untuk memuaskan dorongan instinknya.
Neurotik adalah kata latin dari perasaan gugup.
|
|
Kecemasan moral
|
Respon superego terhadap dorongan id yang mengancam
untuk memperoleh kepuasan secara “immoral”. Kecemasan ini di wujudkan dalam
bentuk perasaan bersalah (guilty feeling) atau rasa malu (shame). Seseorang
yang mengalami kecemasan ini, merasa takut akan dihukum oleh superegonya atau
katahatinya.
|
3.
Mekanisme Pertahanan Ego.
Mekanisme pertahanan ego merupakan proses mental yang bertujuan untuk
mengurangi kecemasan dan dilakukan melalui dua karakteristik khusus yaitu
: (1) tidak disadari dan (2) menolak, memalsukan atau mendistorsi (mengubah)
kenyataan. Mekanisme pertahanan ini dapat juga diartikan sebagai reaksi-reaksi
yang tidak disadari dalam upaya melindungi diri dari emosi atau perasaan yang
menyakitkan seperti cemas dan perasaan bersalah. Ego berusaha sekuat mungkin
menjaga kestabilan hubungannya dengan realitas, id dan superego. Namun
kecemasan begitu menguasai, ego harus berusahan mempertahankan diri. Secara
tidak sadar, dia akan bertahan dengan cara memblokir seluruh dorongan-dorongan
atau menciutkan dorongan-dorongan tersebut menjadi wujud yang lebih dapat
diterima atau tidak terlalu mengancam. Jenis-jenis mekanisme pertahanan ego itu
adalah sebagai berikut.
a.
Represi
Represi merupakan proses penekanan dorongan-dorongan ke alam tak sadar,
orang atau karena mengancam keamanan ego. Anna Freud mengartikan pula sebagai
“melupakan yang bermotivasi”, adalah ketidakmampuan untuk mengingat kembali
situasi, orang atau peristiwa yang menakutkan. Represi merupakan mekanisme
pertahanan dasar yang terjadi ketika memori, pikiran atau perasaan (kateksis
objek = id) yang menimbulkan kecemasan ditekan keluar dari kesadaran oleh
antikateksis (ego). Orang cenderung merepres keinginan atau hasrat
yang apabila dilakukan dapat menimbulkan perasaan bersalah (guilty feeling) dan
konflik yang menimbulkan rasa cemas atau merepres memori (ingatan) yang
meyakitkan.
b.
Projeksi
Projeksi merupakan pengendalian pikiran, perasaan, dorongan diri sendiri
kepada orang lain. Dapat juga diartikan sebagai mekanisme perubahan kecemasan
neurotik dan moral dengan kecemasan realistik. Anna freud mengatakan projeksi
sebagai penggantian kea rah luar atau kebalikan dari melawan diri sendiri,
mekanisme ini meliputi kecendrungan untuk melihat hasrat anda yang tidak bisa
diterima oleh orang lain. Projeksi memungkinkan orang untuk mengatakan dorongan
yang mengancamnya dengan menyamarkanya sebagai pertahanan diri. Projeksi
bertujuan untuk mengurangi pikiran atau perasaan yang menimbulkan kecemasan.
c.
Pembentukan Reaksi (Reaction Formation).
Pembentukan reaksi atau reaksi formasi ialah suatu mekanisme pertahanan ego
yang mengantikan suatu impuls atau perasaan yang menimbulkan kecemasan dengan
lawan atau kebalikannya dalam kesadarannya (Hall dan Gardner). Dapat juga di
artikan pergantian sikap dan tingka laku dengan sikap dan tingkah laku yang
berlawanan.
Bertujuan untuk menyembunyikan pikiran dan perasaan yang dapat menimbulkan
kecemasan. Mekanisme ini biasanya ditandai dengan sikap atau perilaku yang
berlebihan atau bersifat kompulsif, biasanya dari perasaan yang negatif ke
positif meskipun kadang-kadang terjadi dari negatif ke positif. Dalam hal ini
Freud berpendapat bahwa laki-laki yang suka mencemoohkan homoseksual merupakan
ekspresi dari perlawanannya akan dorongan-dorongan homoseksual dalam dirinya
sendiri.
d.
Pemindahan Objek (Displacement)
Displacement adalah suatu mekanisme pertahanan ego yang mengarahkan energi
kepada objek atau orang lain apabila objek asal atau orang yang sesungguhnya,
tidak bisa dijangkau, Corey (2003:19). Menurut Poduska (2000:119)
displacement ialah mekanisme pertahanan ego dengan mana anda melepaskan
gerak-gerik emosi yang asli, dan sumber pemindahan ini dianggap sebagai suatu
target yang aman. Mekanisme pertahanan ego ini, melimpahkan kecemasan yang
menimpa seseorang kepada orang lain yang lebih
rendahkedudukannya.lebih lanjut dikatakan pemindahan objek ini merupakan
proses pengalihan perasaan (biasanya rasa marah) dari objek (target) asli ke
objek pengganti. Contohnya: seorang pegawai yang dimarahi atasannya di kantor,
pada saat pulang dia membanting pintu dan marah-marah pada anaknya.
e.
Faksasi
Faksasi ini merupakan mekanisme yang memungkinkan
orang mengalami kemandegan dalam perkembangannya, karena cemas untuk
melangkah ke perkembangan berikutnya. Faksasi ini bertujuan
untuk menghindari dari
situasi-situasi baru yang dipandang
berbahaya atau mengakibatkan frustasi. Contohnya
anak usia 7 tahun masih ngeisap jempol dan belum berani berpergaian tanpa
ibunya.
f.
Regresi
Regresi adalah kembali ke masa-masa di mana seseorang mengalami
tekanan psikologis. Kerika kita menghadapi kesulitan atau
ketakutan, perilaku kita sering menjadi kekanak-kanakan atau
primitif.
Dapat dikatakan pula
pengulangan kembali tingkah laku yang cocok bagi
tahap perkembangan atau usia sebelumnya (perikaku kekanak-kanakan). Contohnya
seorang yang baru pensiun akan berlama-lama
duduk di kursi goyang dan bersikap
seperti anak-anak, serta menggantungkan hidupnya pada
isntrinya.
g.
Rasionalisasi
Rasionalisasi merupakan penciptaan kepalsuan (alas an-alasan) namun dapat
masuk akal sebagai upaya pembenaran tingkah laku yang tidak dapat
diterima. Menurut Berry (2001:82), rasionalisasi
ialah mencari pembenaran atau alasan bagi prilakunya, sehingga manjadi lebih
bisa diterima oleh ego daripada alasan yang sebenarnya. Rasionalisasi ini
terjadi apabila individu mengalami kegagalan dalam memenuhi kebutuhan, dorongan
atau keinginannya. Dia mempersepsikan kegagalan tersebut sebagai kekuatan yang
mengancam keseimbangan psikisnya (menimbulkan rasa cemas).
h.
Sublimasi
Sublimasi adalah mengubah berbagai rangsangan yang tidak diterima, apakah
itu dalam bentuk seks, kemarahan, ketakutan atau bentuk lainnya, ke dalam
bentuk-bentuk yang bisa diterima secara sosial. Dengan kata lain sublimasi ini
merupakan pembelotan atau penyimpangan libido seksual kepada kegiatan yang
secara sosial lebih dapat diterima. Dalam banyak cara, sublimasi
merupakan mekanisme yang sehat, karena energi seksual berada di bawah kontrol
sosial. Bagi Freud seluruh bentuk aktivitas positif dan kreatif aadalah
sublimasi, terutama sublimasi hasrat seksual.
i.
Identifikasi
Identifikasi merupakan proses memperkuat harga diri (self-esteem) dengan
membentuk suatu persekutuan (aliansi) nyata atau maya dengan orang lain, baik
seseorang maupun kelompok. Identifikasi ini juga merupakan satu cara untuk
mereduksi ketegangan. Identifikasi ini dilakukan kepada orang-orang yang
dipandang sukses atau berhasil dalam hidupnya. Identifikasi dengan penyerangan
adalah bentuk introjeksi yang terfokus pada pengadopsian, bukan dari segi umum
atau positif, tapi dari sisi negatif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar